Memiliki Perilaku yang Ramah terhadap Lingkungan

Sudut Pandang (UGnews Vol 10. No. 01 – 20 Pebruari 2013)

Oleh Annisa Dinda

Jurusan Akuntansi

 

Rumah saya memang tidak kebanjiran. Tapi kan kita jangan sampai tidak peduli soal banjir. Apalagi, akibat banjir banyak akses jalan yang tertutup sehingga tidak bisa dilalui. Hal ini tentu merugikan banyak orang. Jadi meski rumah tidak banjir tetap saja urusan jadi ribet karena banjir. Selain itu juga kerugian ekonomi. Secara langsung atau tidak, pasti berdampak pada masyarakat banyak. Saya lihat istana negara juga kebanjiran. Istana negara kan ikon indonesia., eh kena banjir juga.

Banjir memang tidak pandang bulu. Mau rumah dibantaran kali maupun rumah elit pun terendam banjir. Ini menunjukan kalau banjir adalah urusan bersama. Penanggulangannya pun menjadi urusan bersama. Bukan Cuma pemerintah saja tetapi kalau pemerintahnya semangat bangun waduk, dipinggirannya tetap dibangun rumah. Maka akan tetap menjadi masalah. Apalagi kalau warga disana tetap tidak berdisiplin dalam membuang sampah. Sudah kebayang deh bagaimana nantinya, banjir akan tetap terjadi.

Soal pengerukan kali yang dilakukan pemerintah yang akan memakan biaya miliaran rupiah, tetap akan sia-sia kalau warganya tetap saja giat membuang sampah disana. Apalagi melihat kali yang semakin luas karena sudah dikeruk. Mereka yang suka membuang sampah di kali, tentu akan semakin bersemangat membuang sampah disana.

Untuk mengatasi hal tersebut, harus ada budaya malu dalam membuang sampah sembarangan. Ini yang sulit untuk warga. Harusnya dilakukan menitor ditingkat RT kalau ada yang membuang sampah sembarangan, harus ada tindakan hhukum seperti di negara lain. Dengan begitu kotapun menjadi bersih. Kalaupun ada bencana banjir, tidak akan parah.

Menurut saya, kesadaran masyarakat dalam berdisiplin membuang sampah masih rendah. Saya sedih saat melihat, kemanapun melangkah, pasti ada sampah yang menggunung. Penyuluhan agaknya harus dilakukan sesering mungkin dan harus menjadi fokus utama dinegara kita. Lakukan sosialisasi melalui berbagai organisasi, majelis ta’lim, lembaga pendidikan dan sebagainya. Kalu perlu ada sangsi yang tegas dan berat. Namun pemerintah juga harus punya mekanisme penggangkutan sampah yang benar, sehingga masyarakat juga bisa membuang sampah pada tempatnya. Untuk memulainya lakukanlah dari keluarga agar setiap anggota keluarga memiliki perilaku yang ramah terhadap lingkungan.

This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s